
Pengertian Cerita Rakyat
Cerita rakyat adalah cerita yang menjelaskan kebudayaan rakyat secara turun-temurun dalam bentuk lisan dengan tujuan memberikan pesan moral. Cerita ini termasuk dalam sastra tradisional dan sering kali menceritakan asal-usul suatu tempat.
Selain menjadi hiburan bagi pembacanya, cerita rakyat juga mengandung pesan moral yang bisa dijadikan pelajaran dalam hidup. Cerita ini nggak sebatas memperkenalkan tradisi setiap daerah saja, tetapi juga memberikan gambaran tentang kehidupan di masa lalu, adat istiadat, hubungan antar masyarakat, dan budaya yang terus diceritakan dari waktu ke waktu. Karena diceritakan secara turun-temurun, umumnya cerita rakyat bersifat anonim atau nggak diketahui siapa penciptanya.
Ciri-Ciri Cerita Rakyat
Cerita rakyat memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan jenis cerita lain, seperti:
- Kemustahilan, yaitu cerita yang nggak masuk akal atau nggak bisa dinalar.
- Kesaktian, tokohnya memiliki kekuatan atau kemampuan yang nggak bisa ditemukan pada manusia masa kini.
- Anonim, nggak diketahui secara jelas siapa pencipta atau pengarangnya.
- Istana sentris, biasanya cerita rakyat bertema kerajaan.
- Penyebarannya dilakukan secara lisan dari generasi ke generasi.
- Tradisional, mempertahankan kebiasaan atau adat istiadat masyarakat zaman dulu.
Jenis-Jenis Cerita Rakyat
Cerita rakyat, terdiri atas tiga jenis, yaitu:
1. Mite atau Mitos
Mite bercerita tentang dewa, makhluk gaib, atau kejadian supranatural yang dipercaya benar-benar terjadi. Umumnya, mite memiliki latar cerita dunia lain.
2. Legenda
Legenda berkaitan dengan sejarah atau asal-usul suatu tempat, tokoh, atau peristiwa, meskipun kebenarannya nggak bisa dipastikan. Contoh cerita rakyat legenda adalah Danau Toba atau Roro Jonggrang.
3. Dongeng
Dongeng adalah cerita khayalan yang bertujuan menghibur dan mengajarkan nilai moral seperti fabel, cerita jenaka, atau kisah putri dan raja.
CONTOH CERITA RAKYAT
Situ Bagendit (Jawa Barat)
Zaman dahulu kala, di sebuah desa di daerah Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan kaya yang bernama Nyai Bagendit. Ia terkenal sangat kaya, tetapi juga sangat kikir dan congkak. Nyai Bagendit paling senang menyelenggarakan pesta pesta dan gemar memamerkan harta benda dan perhiasannya kepada warga sekitar.
Namun, ia tidak pernah mau membantu warga sekitar yang sedang kesulitan. Setiap kali warga datang untuk memohon bantuan, Nyai Bagendit akan menolaknya dengan angkuh Warga sangat tidak menyukai perangai Nyai Bagendit. Namun, mereka tidak bisa berbuat apapun juga.
Suatu hari, Nyai Bagendit kembali menyelenggarakan pesta. Ia pun mulai memamerkan kekayaaan dan perhiasannya kepada tamu yang hadir. Tiba-tiba, datanglah pengemis dengan pakaian compang-camping dan kotor.
“Nyai, tolonglah beri hamba makanan sedikit saja,” kata pengemis tersebut. Nyai Bagendit pun marah dan mengusir pengemis itu. “Pergi Kau dari rumahku, pengemis kotor!” Pengemis itu pun pergi dengan perasaan sedih.
Keesokan harinya, di desa itu, terjadi sesuatu yang aneh. Di sebuah jalan di desa tersebut, tiba-tiba ada sebuah lidi tertancap. Tidak ada seorang pun yang bisa mencabut lidi tersebut walaupun telah mencoba melakukannya beramai-ramai. Akhirnya, datanglah pengemis yang kemarin meminta makan kepada Nyai Bagendit. Ia mencabut lidi tersebut.
Setelah tercabut, mengalirlah air dari tempat lidi tersebut tertancap, Makin lama semakin deras. Karena takut tenggelam, penduduk segera mengungsi mencari tempat yang aman. Nyai Bagendit tidak mau meninggalkan rumahnya walaupun air semakin tinggi. Ia tidak mau meninggalkan harta bendanya karenanya ia pun tenggelam bersama rumah dan isinya. Tempat tenggelamnya itu kemudian menjadi danau yang dinamakan Situ Bagendit.
7. Contoh Cerita Rakyat tentang Kelingking Sakti
Kelingking Sakti (Riau)
Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di Kepulauan Riau, hiduplah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Mereka mempunyai tiga orang anak laki- laki bernama Salimbo, Ngah, dan Kelingking. Saat Kelingking berusia 5 bulan, ibunya meninggal dunia. Sejak saat itu mereka tinggal berempat.
Waktu terus berlalu. Kelingking sudah dewasa, la pun berniat merantau, dan menyampaikan niat tersebut pada ayahnya. Meskipun berat hati, sang ayah mengizinkannya. Esoknya, dengan berbekal tujuh buah ketupat, berangkatlah Kelingking merantau. Selama dalam perjalanan, ia makan buah dan daun daunan yang ditemuinya sehingga bekal ketupatnya masih utuh. Suatu siang, sampailah Kelingking di hutan lebat.
Kemudian ia tertidur di bawah pohon rincang. Dalam tidurnya, ia mendengar suara yang mengatakan, jika ia ingin menikah dengan seorang putri, la harus untuk mengikatkan ketupatnya dengan akar tuba dan memasukkannya ke dalam sungai yang mengalir di hutan ini. Apabila air sungai itu sudah berbuih, berarti ikan besar di dalamnya sudah mati. Lalu, ambil ikannya. Saat terbangun, Kelingking pun melaksanakan semua perintah dalam mimpinya. Sampai akhirnya ia mendapatkan ikan yang kemudian ia bakar dan makan sendiri hingga hanya kepala ikan yang tersisa.
Setelah itu kelingking bingung karena tidak ada tanda-tanda kedatangan seorang putri. Akhirnya, dengan kesal, ia menendang kepala ikan itu hingga melambung tinggi dan tidak memperdulikannya lagi. la pun melanjutkan pengembaraannya hingga sampai di sebuah kampung. Ternyata, di kampung itu, seorang raja sedang mengadakan sayembara untuk memindahkan kepala ikan yang mengganggu pemandangan istana. Jika laki-laki, akan dinikahkan dengan putrinya, dan jika perempuan akan diangkat sebagai anaknya.
Melihat kepala ikan itu, Kelingking merasa mengenalnya. la pun mendaftar kan diri. Tidak seorang pun yang mampu menggerakkannya hingga tibalah giliran Kelingking. Semua orang mencemooh badannya yang kecil. Namun, dengan mudahnya ia mengangkat kepala ikan itu dan menguburnya di belakang istana. Ia pun berhak menikah dengan putri raja. Seluruh istana dan penduduk negeri berbahagia atas pernikahan tersebut. Kelingking pun tak lupa menjemput ayah dan kedua abangnya untuk tinggal bersama di istana.